Mendidik Remaja untuk Masa Depan

Home / Kopi TIMES / Mendidik Remaja untuk Masa Depan
Mendidik Remaja untuk Masa Depan Rochmat Wahab. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESMALUKU, YOGYAKARTA – “Sungguh pemuda itu distandarisasi dari kualitas ilmu dan ketakwaannya. Jika keduanya tidak melekat pada struktur kepribadiannya. Ia tidak layak disebut pemuda. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan (syubbanul yaum rijalul ghod).” - Imam Syafi’i.

“Adolescence represents an inner emotional upheaval, a struggle between the eternal human wish to cling to the past and the equally powerful wish to get on with the future.” - Louise J. Kaplan

Dewasa ini kita tidak ada henti-hentinya dihadapkan remaja zaman now dengan segala keunikan dan persoalannya. Di samping prestasi sejumlah remaja di tingkat nasional dan internasional, kita juga dihadapkan remaja yang memiliki penyimpangan perilaku sosial, yang tidak hanya kuantitasnya tapi juga kualitasnya yang terus meningkat baik yang terkait dengan kriminal maupun tindakan asusila. Kita tidak rela membiarkan remaja terjebak perilaku yang menyimpang, dan sudah seharusnya ada upaya yang serius untuk terus mendidik remaja dengan efektif untuk masa depannya.

Remaja yang posisi di antara anak dan orang dewasa menunjukkan bahwa di satu sisi dia masih anak-anak, yang hidupnya tergantung orang lain dan psikologisnya belum matang, di sisi lain sudah injakkan kaki sebagai dewasa, yang sebenarnya secara biologis mampu menjalankan fungsi orang dewasa.

Kondisi ini membuat remaja belum bisa dipercaya sepenuhnya sebagaimana layaknya orang dewasa. Faktanya remaja banyak sekali yang bermasah, walau tidak sedikit remaja yang hidupnya terarah, sehingga bisa tampilkan prestarsi membanggakan.

Dewasa ini kita tidak jarang dibuat shock, karena di berbagai tempat, yang tidak hanya di kota melainkan juga di desa, terdapat banyak remaja yang melakukan tindakan kriminal, bahkan sadis dan tidak berperikemanusiaan. Belum lagi remaja yang emosinya masih tinggi dan labil, hingga mengakibatkan adanya tawuran, pelecehan, perkosaan, bahkan pembunuhan. Di antara mereka yang benar-benar membikin shock, anak membunuh orangtua, murid membunuh guru, dan mahasiswa membunuh dosennya. Siapa yang patut disalahkan? Semoga kejadian ini menjadi bahan renungan bersama.

Kita tidak perlu menyalahkan pihak manapun, karena faktor penyebabnya bisa kompleks. Yang penting kita orangtua perlu terus mengupayakan diri untuk melakukan bimbingan dan pemdampingan anak remaja baik yang memang dalam kondisi krisis identitàs. Di era digital yang pola kehidupan anak remaja yang berbeda secara signifikan, orangtua perlu melakukan reorientasi dalam mendidik dan mengasuh, sehingga anak remaja bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.

Selain dari berbagai persoalan yang dihadapi remaja, pada  dasarnya remaja secara psikologis memiliki berbagai kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Kebutuhan-kebutuhan itu di antaranya (1) kebutuhan keamanan, (2) kebutuhan cinta, (3) kebutuhan pengakuan, (4) kebutuhan kebebasan atau kemandirian, (5) kebutuhan ekspresi diri dan berprestasi, dan (6) kebutuhan aktualisasi diri dan ruhaniyah. Kebutuhan-kebutuhan ini menjadi tanggung jawab orang dewasa utamanya orangtua, sehingga remaja itu bisa mandiri dan beradaptasi. Tanpa menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu terjadi.

Selanjutnya bisa selamatkan anak remaja dari kegagalan hidupnya, maka ada beberapa upaya penting yang bisa dilakukan orangtua, di antaranya (1) Jalin komunikasi intens dengan anaknya yang remaja  (2) Berikan pemahaman tentang agama dan contoh perilaku beragama dalam kehidupan sehari-hari, (3) Tunjukkan rasa kepercayaan Anda kepada anaknyanyang remaja, (4) Biarkan anak bersosialisasi dengan longkungannya dengan kontrol yang didasari kasih sayang, (5) Berikan perintah dan larangan pada waktu dan kondisi yang tepat, (7) Jadikan diri sebagai teladan yang baik, (8) Arahkan dan dampingi anaknya  remaja untuk mencari idola yang baik, (9) Arahkan dan kendalikan remaja dalam perbaikan dan pemanfaatan dunia digital, (10) Dengarkan dengan antusias dan hargai pendapat remaja.

Masa depan yang dihadapi remaja adalah suatu kepastian. Namun gambaran masa dekan yang akurat sulit dirumuskan, kecuali hanya bersifat ramalan. Secara garis besar para futurolog sudah mampu melakukan, bagaimana tantangan masa depan. Yang menjadi soal bahwa remaja sebagai pemilik masa depan umumnya lebih tertarik dengan cara hidup yang pragmatis, apa yang terjadi saat ini dan di sini. Karena itu remaja perlu dibimbing untuk tidak terjebak dengan hidup yang hedonistik dan materialistik. Melainkan mau belajar dan bekerja keras yang bersifat investatif.

Akhirnya bahwa remaja secara fitrah sudah menggendong masalah. Namun juga memiliki potensi. Remaja perlu diupayakan untuk fokus kembangkan potensi untuk aktualisasi diri, yang dengan sendirinya bisa mengatasi masalah yang tak bisa dihindari. Sebaliknya kita tidak bisa menyerah terhadap masalah yang menggerogoti remaja, karena bisa berakibat lenyapkan potensi yang dimiliki. Karena itu orangtua seharusnya berkomitmen kuat untuk fasilitasi dan bimbing remaja dengan cara yang benar dan efektif, sehingga mampu siapkan remaja menghadapi tantangan di masa-masa mendatang. (*)

 

 

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com